Pendidikan Tanpa Kelas & Rangking


Oleh : Muhammad Mas'ud Silalahi (Pengasuh Rumah Qur'an)
MMO | www.matamedia.online Ada sesuatu yang telah lama dikumandangkan oleh para stake holder, dari kampus-kampus (dibawah pohon rindang), taman-taman, sampai dicafe-cafe. Saya meyebutnya sebagai pendidikan tanpa ruang kelas dan rangking. Ya sudah barang tentu juga tidak memiliki ijazah, paling ada sertifikatlah sebagai peserta yang telah mengikuti kajian.

Ini akan kita galakkan dari desa ke desa dan dari perkotaan, seperti taman-taman kota dan pemanfaatan halaman kosong yang bisa diperdayakan. Sehingga dari cakrok atau joglo dipedesaan, pelataran masjid, cafe dan taman bisa dijadikan sebagai tempat edukasi publik. Sehingga dunia pendidikan tetap bisa berjalan dalam upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tentu, secara formal, ruang kelas dan dunia pendidikan sangat diperlukan untuk mengambil legitimasi sosial sebagai jalan menempuh dunia ketrampilan yang bersifat hiraki. Tapi secara wawasan dan pengetahuan, kita juga bisa menambahnya dari pendidikan in-formal yang bisa digerakkan dari luar ruangan kelas dan sistem rangking.

Jika kita memandang ke belakang, Tokoh kemerdekaan RI juga melakukan hal seperti yang saya sampaikan diatas, contah saja buyut kita RA Kartini, Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro dll. Pada masa sebelum kemerdekaan RI, para Tokoh Pendidikan kita melakukan edukasi kepda masyarakat dengan cara Griliya dari rumah ke rumah, dari taman ke taman dan dari joglo ke joglo.

Oleh sebab itu pula, perlu kiranya kita menjadikan mereka sebagai Suri Tauladan dalam dunia pendidikan kerakyatan dan mengaktifkan ruang-ruang publik untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Semoga, langkah-langkah ini di Ridhoi, di Berkahi dan di Rahmati oleh Allah s.w.t. Aamiin

Subscribe to receive free email updates:

Notification
JASMERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), Karena Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
Done