Mengenal Sosok Sederhana Amizaro Waruwu S.Pd


MMO | www.matamedia.online Amizaro Waruwu lahir dari pasangan suami isteri Bapak Rubeno Waruwu (alm) dan ibu Dalimani Waruwu (alm) tanggal 23 Maret 1976 di sebuah desa tertinggal bernama Lauru Fadoro, mempunyai tiga orang saudara laki - laki dan dua orang saudara perempuan.

Dia tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana dan sejak kecil senang bergaul dengan anak - anak seusianya. Ia terbiasa hidup dengan pola "Berjuang keras untuk bisa bertahan hidup". Betapa tidak, di desanya belum ada arus listrik, jalan penghubung antara desa ke desa hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang dikerjakan oleh masyarakat.

Tak jarang ia ikut bekerja keras membantu kedua orangtuanya untuk bertani di sawah, membuka kebun di ladang, mencari ikan di danau atau laut dan untuk berjalan kaki ke pekan membeli kebutuhan sehari-hari.

Kondisi perekonomian yang sulit ini menempanya menjadi pribadi yang mandiri. Ia belajar bahwa kesulitan - kesulitan ini suatu saat pasti akan memiliki jalan keluar asal mau berusaha dan bekerja keras.

Dengan semangat itu, ia berjuang untuk bisa sekolah. Pada masa itu, sebagian besar orangtua tidak menganggap pendidikan sebagai suatu hal yang penting, sehingga mereka cenderung untuk menikahkan anaknya pada usia belia. Asalkan kuat bekerja di sawah dan ladang, maka sudah cukup sebagai modal membentuk keluarga. Namun tidak demikian untuk sosok bernama Amizaro Waruwu. Ia berjuang untuk tetap sekolah di SD Lauru Fadoro sekalipun ditengah perjalanan ia harus berpisah untuk selamanya dengan ayah yang dikasihinya karena meninggal dunia. Dengan langkah yang tetap tegap dan semangat yang tinggi, ia terus sekolah sampai tamat SD bahkan melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Afulu dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer setiap harinya.

Setelah tamat SMP, niatnya untuk melanjutkan pendidikan di SMA terurung karena keterbatasan ekonomi. Begitupun, ia tidak menyerah. Ia mengambil suatu keputusan untuk pergi merantau keluar dari Pulau Nias. Ia tiba di Sibolga dan diterima bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan balok kayu di pedalaman hutan Tapanuli Tengah.

Pekerjaan itu sebenarnya sangat sulit bagi seorang anak seusianya, tetapi karena kegigihannya dan prinsip hidupnya yang pantang menyerah membuatnya tetap bekerja dan menimba banyak pengalaman di tengah - tengah kesulitan. Dari hasil kerjanya, ia mengirim sebagian pendapatannya untuk mendukung ekonomi ibunya yang sudah menjanda dalam membiayai kebutuhan adik - adiknya yang masih tinggal di kampung.

Mungkin karena tidak berimbang antara volume kerja dengan usia yang masih muda, akhirnya ia pun jatuh sakit. Pendapatan yang selama ini ia sisihkan sedikit demi sedikit akhirnya habis untuk biaya hidup dan pengobatannya selama sakit. Begitupun, penyakit tak kunjung sembuh, yang akhirnya ia harus pulang ke Nias bersama dengan abang sulungnya yang datang menjemput.

Setiba di desa kelahirannya, oleh kuasa Tuhan ia dipulihkan dan sekali lagi ia mengambil keputusan yang tepat untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Lahewa walaupun harus tinggal di kamar kos pada tahun 1994-1997. Di SMA ini, ia mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya di bidang olahraga voli. Ia tekun berlatih dan meningkatkan prestasi volinya dari tahun ke tahun. Kerja keras dan perjuangan akhirnya membuahkan hasil sehingga ia tamat SMA.

Untuk ketiga kalinya ia mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Ia mencari pengalaman baru dan pergi ke Medan untuk mengadu nasib disana. Ternyata hidup di kota besar tidak semudah yang dibayangkan, apalagi pada saat itu Indonesia sedang dilanda krisis moneter tahun 1997-1998. Ijazah SMA saja tidak cukup untuk mendapat pekerjaan yang mumpuni. Ia bekerja serabutan, di antaranya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Besitang, Pangkalan Brandan, menjadi buruh bangunan di Hotel Tiara Medan dan terakhir bekerja sebagai karyawan di sebuah restoran di Jalan Semarang, sebuah area kuliner di Kota Medan. Biaya hidup yang tinggi di Kota Medan tidak mampu ditutupi oleh gajinya yang hanya sebesar Rp.6.000,- per hari. Merasa tak cukup dengan gaji yang pas-pasan, ia bertekad untuk melanjutkan kuliah dengan harapan kelak ia akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Ia lalu memutuskan untuk pulang ke Nias dan melanjutkan pendidikan di IKIP Gunungsitoli di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sebagai mahasiswa baru, ia kerap mengikuti beberapa perlombaan voli. Ketika ia mengikuti turnamen voli pada peringatan Sumpah Pemuda (Oktober 1998), beberapa orang yang tidak mengenalnya menyemangatinya dengan teriakan “Mister Long, Mister Long” karena tubuhnya yang jangkung. Sejak saat itu, julukan Mister Long pun melekat padanya.

Tak lama setelah memulai kuliah, ibunda tercinta meninggal dunia. Lagi-lagi, tekanan batin dan ekonomi ibarat sebuah batu besar menimpa dirinya. Namun ia tetap tegar dan tidak fokus pada masalah melainkan pada solusi nyata. Ia berjuang dan mengambil keputusan untuk membawa adik-adiknya di Gunungsitoli. Setelah pertimbangan yang matang, ia menyadari bahwa adik perempuannya lebih aman untuk tinggal di rumah Bapak Pendeta Tuhoni Telaumbanua sebagai orangtua sehingga ia mengantarkannya kesana.

Sedangkan adik laki-lakinya lebih tepat tinggal di Panti Asuhan untuk dididik hidup mandiri. Sambil kuliah, ia menarik becak dan mengajar les privat di Panti Asuhan dan di rumah-rumah orang untuk membiayai kuliahnya sendiri dan kebutuhan sehari-hari. Dua tahun berselang, hatinya rindu untuk bisa berkumpul bersama adik-adiknya. Ia bekerja keras lagi untuk menyekolahkan adik-adiknya dan membiayai segala kebutuhan mereka. Ia pun mengambil keputusan untuk menanggalkan rasa malu dan berjualan molen di depan SD 1 Gunungsitoli yang dimodali oleh Bapak Pendeta AR. Geya (Ephorus BNKP pada saat itu) dan Bapak Ama Ika Nazara. Dari hasil penjualan molen inilah, ia bisa menyelesaikan kuliahnya dan menyekolahkan adik-adiknya. Selang beberapa waktu, Amizaro diangkat menjadi anggota Satpol PP oleh Bapak Binahati Baeha sebagai Bupati Nias pada saat itu setelah mengenalnya sebagai penjual molen yang tekun. Sembari bekerja sebagai Satpol PP, ia tetap melanjutkan berjualan molen dan juga aktif mengikuti berbagai turnamen voli. Julukannya sebagai Mr. Long semakin dikenal oleh masyarakat.

Pada tahun 2003, ia lulus dari IKIP Gunungsitoli dengan IPK yang memuaskan. Ia bertemu pula dengan seorang gadis cantik dari Gunungsitoli Alo’oa bernama Arismanwati Zendrato, S.Pd. Dengan keberanian yang tinggi ia pun melamar gadis ini dan menikah dengannya pada tahun 2007 dan telah dikaruniai lima orang anak.

Maret 2008, ia mencoba bertarung untuk pertama kalinya dan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa di kampung halamannya. Ini adalah kali pertama Pemilihan Langsung Kepala Desa. Ia memenangkan pemilihan dan pada tanggal 28 Maret 2008, ia dilantik sebagai Kepala Desa Laurufadoro. Pada tahun 2009, ia bertarung untuk kedua kalinya dan mencalonkan diri sebagai calon legislatif melalui Partai Pelopor dan menjadi pemenang sehingga dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Nias. Pada bulan April 2010, ia dilantik sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nias Utara setelah pemekaran.

Pada tahun 2014, ia masuk Partai PAN dan kembali bertarung mengikuti pemilihan legislatif. Ia kembali menjadi pemenang sehingga dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Nias Utara periode 2014-2019. Namun pada tanggal 13 September 2018, ia mengundurkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Nias Utara demi memenuhi janji politik untuk melaksanakan PAW dengan Ibu Masdalena Aceh (Ina Laskar). Jabatan sebagai anggota DPRD selama 14 bulan ia relakan untuk mewujudkan komitmen pada Pilkada 2014. Inilah gambaran sosok Amizaro Waruwu yang tidak terikat pada suatu jabatan tetapi terikat pada komitmen bersama.

Pada tahun 2019, ia kembali bertarung untuk ke-empat kalinya dan mencalonkan diri sebagai calon legislatif melalui partai PAN. Ia muncul sebagai pemenang karena kepercayaan masyarakat yang masih tetap tinggi sebagai konsekuensi dari seorang pribadi yang setia memegang janji. Dukungan masyarakat sangat nyata dan itulah yang mengantarkannya sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nias Utara periode 2019-2024. Amizaro Waruwu sangat menyadari bahwa segala yang telah ia terima datangnya dari Tuhan. Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk melayani Tuhan sebagai anggota BPHMS BNKP periode 2017-2022. Bukan hanya itu. Pada tahun 2019 ia juga mengabdikan diri sebagai Ketua KNPI Nias Utara. Dari tahun ke tahun melakukan pelayanan diakonia adalah hal yang tidak pernah terlewatkan oleh seorang pribadi yang dermawan “Amizaro Waruwu”. Berkat yang ia terima tidaklah dinikmati sendiri, ia senang berbagi dan peduli. Adalah kebahagiaan tersendiri apabila ia dapat mengulurkan tangannya membantu orang-orang yang susah.

Motto hidupnya : "HIDUP Menjadi BERKAT"

Baginya, dengan memberi, ia sedang menabur berkat. Semakin banyak memberi pada sesama, semakin banyak diberi oleh Tuhan. Ia yakin bahwa orang yang senang berbagi tidak akan pernah kekurangan dalam hidupnya. Dan saat ini ia sedang mencari kehendak Tuhan untuk langkah politik berikutnya. Demikian biografi singkat sederhana tapi istimewa "AMIZARO WARUWU". Ya'ahowu.
Sumber : Akun fb Anuari Zendrato.

Subscribe to receive free email updates:

Notification
JASMERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), Karena Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
Done